Pertanyaan ini menjadi perbincangan luas karena temuan-temuan di Adan-Adan menunjukkan skala pembangunan yang luar biasa. Jika dugaan tersebut benar, maka situs ini berpotensi menjadi salah satu kompleks percandian terbesar yang pernah dibangun di Nusantara.
Awal Penemuan Situs Adan-Adan
Situs Adan-Adan pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh masyarakat pada tahun 1970-an. Saat itu, warga menemukan batu-batu kuno dan fragmen arca yang terkubur di dalam tanah. Temuan tersebut kemudian menarik perhatian para peneliti.Sejak tahun 1991 hingga 2021, berbagai lembaga arkeologi nasional telah melakukan setidaknya enam kali ekskavasi. Hasilnya menunjukkan bahwa area situs menyimpan struktur bangunan dan artefak dalam jumlah besar. Menariknya, setiap titik yang diuji hampir selalu menghasilkan penemuan baru, menandakan bahwa masih banyak bagian kompleks yang belum terungkap.
Kedekatan dengan Gunung Kelud
Untuk memahami mengapa situs ini terkubur, perlu melihat kondisi geografis wilayah Kediri yang berada tidak jauh dari Mount Kelud. Gunung Kelud dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Jawa Timur. Letusan-letusannya berulang kali menyemburkan material vulkanik dan lahar yang menimbun berbagai bangunan kuno.Situs Adan-Adan berada di wilayah yang sangat rentan terhadap aliran lahar. Besar kemungkinan, kompleks candi ini terkubur secara bertahap oleh material vulkanik selama berabad-abad. Ironisnya, bencana alam yang menghancurkan tersebut justru membantu melindungi artefak dari kerusakan yang lebih parah.
Bhagawanta Bari dan Sungai Harinjing
Sejarah wilayah ini juga berkaitan erat dengan tokoh bernama Bhagawanta Bari. Pada abad ke-9, ia memimpin pembangunan sistem pengendalian air berupa bendungan dan sudetan sungai untuk melindungi masyarakat dari banjir dan lahar. Upaya ini tercatat dalam Prasasti Harinjing, salah satu prasasti tertua yang menyebut nama Kadiri.Pembangunan sistem tersebut sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Meski demikian, situs-situs yang terletak di bagian selatan Sungai Serinjing, termasuk Adan-Adan, tetap menghadapi ancaman dari aktivitas Gunung Kelud.
Makara Raksasa yang Menjadi Sorotan
Artefak paling terkenal dari Situs Adan-Adan adalah sepasang makara raksasa setinggi sekitar 2,3 meter. Makara merupakan ornamen mitologis yang biasanya ditempatkan di sisi tangga candi sebagai simbol pelindung.Makara di Adan-Adan memiliki pahatan yang sangat detail. Seluruh permukaannya dihiasi motif lidah api, singa kecil, dan ukiran halus yang menunjukkan kemampuan seni pahat tingkat tinggi. Ukurannya yang sangat besar menjadikannya salah satu makara terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Temuan inilah yang memicu spekulasi bahwa bangunan induk situs ini juga berukuran sangat besar.
Kepala Bodhisattwa yang Monumental
Selain makara, ditemukan pula kepala arca Bodhisattwa dengan ukuran yang luar biasa. Arca ini memiliki mahkota mewah, wajah halus, dan proporsi yang megah. Detail pahatan pada perhiasan dan hiasan kepala menunjukkan kualitas artistik yang sangat tinggi.Dalam ajaran Buddha Mahayana, arca Bodhisattwa biasanya dibuat dalam jumlah banyak untuk menghiasi berbagai sisi bangunan. Jika satu kepala saja memiliki ukuran sebesar ini, maka sangat mungkin bahwa keseluruhan kompleks candi dibangun dalam skala monumental.
Bukti Kuat Corak Buddha Mahayana
Salah satu fragmen arca ditemukan dalam posisi duduk bersila dengan mudra dhyana, yaitu pose meditasi yang identik dengan Amitabha. Temuan ini menunjukkan bahwa Situs Adan-Adan merupakan kompleks bercorak Buddha Mahayana.Hal ini sangat menarik karena lokasi situs berada dekat dengan Situs Tondowongso yang bercorak Hindu Siwa. Kedekatan dua pusat keagamaan dengan latar keyakinan berbeda menunjukkan bahwa masyarakat Jawa kuno hidup dalam suasana toleransi yang kuat.
Apakah Benar Lebih Besar dari Borobudur?
Klaim bahwa Adan-Adan lebih besar dari Borobudur memang mengundang perhatian, tetapi hingga kini belum ada bukti yang cukup untuk memastikan hal tersebut.Borobudur merupakan bangunan monumental yang terdiri atas jutaan batu andesit dan ribuan panel relief. Untuk melampaui ukurannya, Adan-Adan harus memiliki fondasi dan struktur yang sangat luas.
Namun penelitian menunjukkan bahwa sebaran temuan situs mencakup tiga desa dan tiga kecamatan. Ini menunjukkan bahwa kompleks Adan-Adan kemungkinan jauh lebih luas daripada area yang telah digali. Dengan kata lain, meskipun belum tentu lebih besar sebagai bangunan tunggal, situs ini dapat menjadi salah satu kawasan percandian terbesar di Nusantara.
Perkiraan Waktu Pembangunan
Hingga kini, belum ditemukan prasasti yang menyebut secara pasti siapa pendiri Situs Adan-Adan. Para peneliti memperkirakan situs ini dibangun sekitar abad ke-10 dan digunakan hingga abad ke-14.Perkiraan ini didasarkan pada gaya seni pahat, kemiripan dengan situs lain, serta penemuan keramik Tiongkok. Namun ada juga pendapat bahwa situs ini mungkin lebih tua, bahkan berasal dari masa sebelum abad ke-9.
Jika dugaan tersebut benar, maka Adan-Adan dapat menjadi salah satu situs Buddha tertua dan terpenting di Jawa Timur.
Kemiripan dengan Muaro Jambi
Makara Adan-Adan memiliki kemiripan dengan ornamen di Muaro Jambi Temple Compounds, terutama pada Candi Kedaton dan Solok Sipin. Kesamaan ini menunjukkan adanya hubungan budaya dan artistik yang kuat antara Jawa dan Sumatra pada masa klasik.Hubungan tersebut menjadi bukti bahwa Nusantara pada masa lalu memiliki jaringan intelektual, agama, dan seni yang sangat maju.
Kualitas Seni Pahat yang Luar Biasa
Setiap artefak dari Situs Adan-Adan menunjukkan kehalusan pahatan yang menakjubkan. Detail pada mahkota, kelopak teratai, perhiasan, dan ekspresi wajah dibuat dengan sangat teliti.Kualitas ini menunjukkan bahwa situs tersebut dibangun oleh para pemahat terbaik pada masanya. Gaya artistiknya mencerminkan perkembangan seni yang menjadi jembatan antara era Kerajaan Kediri dan Kerajaan Singhasari.
Selera Humor Leluhur
Di balik kesan megah dan sakral, para pemahat tampaknya juga memiliki selera humor. Salah satu makara digambarkan dengan dua gigi yang tanggal, sehingga terlihat ompong.Detail kecil ini memperlihatkan sisi manusiawi para seniman masa lampau. Mereka tidak hanya menciptakan karya monumental, tetapi juga menyisipkan unsur jenaka yang membuat hasil karyanya terasa hidup.
Tantangan Ekskavasi Lebih Lanjut
Potensi Situs Adan-Adan sangat besar, tetapi penggalian menyeluruh menghadapi banyak kendala. Sebagian area situs berada di bawah permukiman warga, sehingga ekskavasi memerlukan biaya besar dan kemungkinan relokasi.Selain itu, pelestarian situs membutuhkan komitmen jangka panjang dari pemerintah dan masyarakat. Tanpa dukungan yang memadai, banyak bagian penting situs ini akan tetap tersembunyi di dalam tanah.
Potensi Mengubah Sejarah Nusantara
Jika suatu hari struktur utama berhasil diungkap, Situs Adan-Adan dapat menjadi salah satu penemuan arkeologi paling penting di Asia Tenggara. Situs ini berpotensi mengubah pemahaman tentang perkembangan agama Buddha, seni pahat, dan arsitektur monumental di Indonesia.Lebih dari sekadar peninggalan kuno, Adan-Adan adalah saksi kejayaan peradaban yang menunjukkan kecanggihan teknologi, kedalaman spiritual, dan semangat toleransi leluhur Nusantara.
Kesimpulan
Situs Adan-Adan di Kediri menyimpan misteri besar yang belum sepenuhnya terpecahkan. Temuan makara raksasa, kepala Bodhisattwa monumental, dan berbagai fragmen bangunan menunjukkan bahwa di bawah tanah Kediri mungkin masih tertidur sebuah kompleks candi Buddha yang sangat megah.Apakah ukurannya benar-benar lebih besar dari Borobudur? Sampai saat ini, jawabannya masih menjadi teka-teki. Namun yang pasti, Situs Adan-Adan merupakan salah satu warisan budaya paling menjanjikan di Indonesia dan layak mendapatkan perhatian serius untuk diteliti serta dilestarikan.
disarikan dari Asisi Chanel YT

0 Komentar