Saat Sekolah Tak Lagi Sekadar Ruang Kelas
Transformasi pendidikan hari ini tidak lagi berbicara sebatas memindahkan buku cetak ke layar tablet atau mengganti papan tulis dengan proyektor digital. Perubahan yang lebih mendasar sedang terjadi: cara sekolah berpikir, mengajar, dan membangun budaya belajar ikut bertransformasi. Sekolah tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi harus mampu memimpinnya.Di tengah arus digitalisasi global yang semakin cepat, lahirlah Samsung Digital Lighthouse School (SDLS), sebuah inisiatif yang menempatkan sekolah sebagai mercusuar pembelajaran digital. Ia bukan hanya simbol modernisasi, melainkan model nyata bagaimana teknologi diintegrasikan secara sistemik ke dalam ekosistem pendidikan.
Program ini dirancang untuk membantu sekolah membangun pembelajaran yang lebih interaktif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Bukan sekadar adopsi perangkat, melainkan transformasi menyeluruh yang menyentuh infrastruktur, kompetensi guru, pengalaman belajar siswa, hingga budaya organisasi sekolah.
Dari Teknologi sebagai Alat ke Teknologi sebagai Ekosistem
Banyak sekolah memulai digitalisasi dengan membeli perangkat, tetapi berhenti pada tahap penggunaan teknis. Samsung Digital Lighthouse School mengambil pendekatan berbeda. Teknologi dipandang sebagai bagian dari ekosistem belajar, bukan sekadar alat bantu.Perangkat digital, sistem manajemen keamanan, aplikasi pembelajaran, serta pelatihan guru dirancang berjalan serempak. Ketika semua elemen terintegrasi, kelas berubah menjadi ruang kolaborasi yang hidup. Siswa dapat mencatat secara digital, mengakses materi secara real time, mengerjakan proyek multimedia, hingga berdiskusi lintas ruang tanpa batasan fisik.
Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih personal. Setiap siswa memiliki akses yang sama terhadap sumber belajar, dapat bergerak sesuai ritme masing-masing, sekaligus tetap terhubung dengan komunitas kelasnya.
Guru sebagai Desainer Pengalaman Belajar
Transformasi digital tidak akan berarti tanpa peran guru. Dalam model SDLS, guru tidak lagi diposisikan sebagai pusat informasi, melainkan perancang pengalaman belajar.Dengan dukungan perangkat produktivitas dan pelatihan berkelanjutan, guru mampu menyusun materi yang lebih visual, kontekstual, dan interaktif. Presentasi berubah menjadi simulasi, catatan menjadi infografik, tugas menjadi proyek kolaboratif.
Peran ini menuntut kreativitas sekaligus literasi digital yang kuat. Guru belajar memanfaatkan teknologi untuk memantik diskusi, mendorong eksplorasi, dan membimbing siswa menemukan pengetahuan mereka sendiri. Kelas pun menjadi ruang dialog, bukan monolog.
Siswa sebagai Kreator, Bukan Sekadar Konsumen
Di ruang belajar digital, siswa tidak lagi hanya menerima materi. Mereka memproduksi karya.Tablet dan aplikasi kreatif memungkinkan mereka membuat video pembelajaran, buku digital, podcast, presentasi interaktif, hingga proyek riset berbasis data. Aktivitas ini menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap proses belajar sekaligus mengasah keterampilan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.
Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa terlibat langsung dalam proses penciptaan. Mereka belajar bukan untuk menghafal, tetapi untuk memahami dan membangun solusi.
Tantangan Infrastruktur dan Literasi Digital
Tentu saja, perjalanan menuju sekolah digital tidak selalu mulus. Infrastruktur jaringan, ketersediaan perangkat, serta kesiapan guru menjadi tantangan utama.Digitalisasi yang terburu-buru tanpa perencanaan dapat menimbulkan kesenjangan baru. Karena itu, pendekatan SDLS menekankan keberlanjutan program dan penguatan kapasitas manusia. Investasi terbesar bukan pada perangkat, melainkan pada pengembangan kompetensi.
Ketika guru siap, manajemen sekolah solid, dan komunitas mendukung, teknologi akan menjadi katalisator perubahan, bukan hambatan.
Thursina IIBS Malang: Boarding School yang Menyala di Era Digital
Perjalanan Samsung Digital Lighthouse School di Indonesia memasuki babak baru ketika Thursina International Islamic Boarding School Malang resmi bergabung sebagai mitra. Sekolah berasrama ini menjadi boarding school pertama di Indonesia yang mengadopsi program SDLS, menandai langkah berani dalam menyatukan pendidikan karakter dengan teknologi modern.Peresmian program digelar melalui acara inaugurasi di gedung Harvard Thursina IIBS, menjadi momentum penting kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri teknologi. Lingkungan boarding school yang berlangsung sepanjang hari justru menghadirkan peluang lebih besar untuk integrasi digital secara menyeluruh.
Di Thursina, digitalisasi tidak berhenti di ruang kelas. Teknologi dimanfaatkan dalam perencanaan pembelajaran, manajemen akademik, hingga penguatan komunikasi sekolah. Semangat ini menunjukkan bahwa modernisasi dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai keislaman dan pembinaan karakter.
Komitmen lembaga terlihat pada blueprint pengembangan yang menempatkan teknologi sebagai fondasi masa depan pendidikan. Sementara dari sisi Samsung, kemitraan ini dipandang sebagai langkah strategis membangun model sekolah digital berkelanjutan melalui inovasi pembelajaran, pengembangan guru, keterlibatan siswa, serta penguatan identitas institusi.
Yang menarik, Thursina membuktikan bahwa kecanggihan teknologi tidak harus menghilangkan jati diri. Justru sebaliknya, teknologi menjadi sarana untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan nilai pendidikan.
Ketika Nilai dan Inovasi Berjalan Seiring
Sering kali muncul kekhawatiran bahwa digitalisasi akan menjauhkan siswa dari nilai-nilai karakter. Pengalaman Thursina menunjukkan sebaliknya. Teknologi dapat menjadi alat untuk memperdalam refleksi, memperluas akses ilmu, sekaligus membangun disiplin dan tanggung jawab.Integrasi antara pembinaan karakter dan pembelajaran digital menciptakan keseimbangan unik. Siswa tumbuh tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Model ini memberi pesan penting bahwa sekolah masa depan bukan sekadar pintar secara teknologi, melainkan juga kuat secara nilai.
Menjadi Mercusuar bagi Sekolah Lain
Istilah lighthouse atau mercusuar bukan tanpa makna. Sekolah yang mengadopsi program ini diharapkan menjadi penunjuk arah bagi institusi lain. Praktik baik yang lahir dari pengalaman mereka dapat direplikasi, disesuaikan, dan dikembangkan di berbagai daerah.Ketika satu sekolah berhasil, dampaknya tidak berhenti di lingkup internal. Ia menginspirasi ekosistem yang lebih luas. Dari sinilah perubahan besar dimulai, pelan namun pasti.
Samsung Digital Lighthouse School pada akhirnya bukan sekadar program teknologi. Ia adalah gerakan bersama untuk memastikan pendidikan Indonesia tetap relevan di tengah disrupsi global. Dengan dukungan industri, komitmen sekolah, dan kesiapan guru, ruang kelas dapat bertransformasi menjadi pusat inovasi.
Sekolah-sekolah seperti Thursina IIBS Malang menunjukkan bahwa masa depan itu bukan sesuatu yang ditunggu, melainkan dibangun hari ini. Di tangan mereka, pendidikan digital bukan hanya cahaya kecil, tetapi sinar terang yang menuntun generasi menuju dunia yang lebih siap, cerdas, dan berkarakter.

0 Komentar