Sebanyak 39 peserta aktif yang berasal dari 20 kecamatan di Kabupaten Malang hadir dengan latar belakang wilayah dan potensi yang beragam. Mereka tidak datang hanya untuk mendengarkan materi, tetapi untuk merumuskan langkah konkret agar KIM semakin relevan, adaptif, dan berdampak. Dalam dinamika transformasi digital yang terus bergerak cepat, KIM dituntut tidak lagi sekadar menjadi penyampai informasi, melainkan menjadi pengelola narasi, penguat branding wilayah, serta jembatan antara kebijakan dan kebutuhan masyarakat.
Penguatan Peran KIM sebagai Public Relations Pemerintah
Salah satu fokus utama dalam kegiatan ini adalah pembahasan tentang branding. KIM diharapkan mampu mengambil peran sebagai public relations pemerintah, baik di tingkat pusat, daerah, maupun desa. Peran ini bukan dalam arti formal struktural, melainkan dalam kapasitas fungsional sebagai pengelola komunikasi publik yang kredibel dan dipercaya masyarakat.Tema besar yang perlu disukseskan bersama mencakup penguatan koperasi desa dan kelurahan Merah Putih, program makan bergizi gratis, serta pengembangan sekolah unggulan. Ketiganya memiliki benang merah pada pembangunan sumber daya manusia dan kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Tantangannya bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi membangun pemahaman, partisipasi, dan rasa memiliki masyarakat terhadap program-program tersebut.
Dalam konteks inilah branding menjadi krusial. Branding tidak sekadar logo atau slogan, melainkan identitas nilai, konsistensi pesan, serta strategi komunikasi yang terencana. KIM perlu memiliki positioning yang jelas, sehingga publik mengenal, mempercayai, dan mengikuti konten yang diproduksi.
Arah Strategis dari Narasumber: Branding Berbasis Potensi Wilayah
Materi yang disampaikan oleh Ibu Dewi Yuhana selaku Founder Dheaza Prima Nusantara menekankan pentingnya membranding diri sesuai potensi lokal. Setiap kelompok ditugaskan untuk merumuskan identitas yang mencerminkan kekuatan wilayah masing-masing. Pendekatan ini berbasis pada prinsip bahwa komunikasi yang kuat lahir dari keaslian dan relevansi.Potensi lokal bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan narasi yang dapat dikembangkan menjadi konten informatif, inspiratif, dan edukatif. Dengan memanfaatkan potensi wilayah, KIM tidak perlu mencari isu yang jauh dari realitas masyarakat. Sebaliknya, mereka cukup menggali, mengemas, dan mempublikasikan apa yang sudah ada di sekitar, namun belum terangkat secara sistematis.
Langkah ini sekaligus mendorong KIM untuk bertransformasi dari sekadar konsumen informasi menjadi produsen konten yang memiliki nilai tambah. Konten yang diproduksi tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga strategis dalam membangun citra desa dan memperkuat literasi masyarakat.
Kolaborasi Kelompok Dua dan Lahirnya Identitas Bersama
Dari delapan kelompok yang terbentuk, Kelompok Dua menghadirkan model sinergi berbasis kesamaan potensi. Kelompok ini terdiri dari KIM Gema Slamparejo, KIM Satu Jiwa Desa Ngingit, KIM Ikidangbang Desa Kidangbang, KIM Warta Jambe Desa Jambearjo, serta KIM Wisnu Kencana Desa Tulusbesar. Untuk memudahkan koordinasi dan membangun identitas kolektif, mereka menyepakati nama Parjo Nginang Jambe Besar.Kesamaan mendasar yang ditemukan di antara desa-desa tersebut adalah potensi di sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan. Tiga sektor ini bukan hanya menjadi tulang punggung ekonomi desa, tetapi juga berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, terutama asupan pangan dan protein.
Dari kesadaran itulah lahir branding bersama dengan tajuk MALTIM SIGAP, singkatan dari Malang Timur Sinergi Asupan Protein. Nama ini mengandung dua dimensi makna. Malang Timur merepresentasikan wilayah geografis desa-desa anggota kelompok, sementara Sinergi Asupan Protein menegaskan fokus kampanye yang akan dijalankan.
Sinergi Asupan Protein sebagai Kampanye Literasi Digital
Pilihan fokus pada asupan protein bukan tanpa alasan. Program makan bergizi gratis yang digaungkan pemerintah pusat memiliki relevansi kuat dengan isu pemenuhan gizi, terutama protein, sebagai komponen penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Di sisi lain, potensi pertanian, perikanan, dan perkebunan di wilayah Malang Timur menyediakan sumber protein nabati maupun hewani yang melimpah.Ironisnya, potensi yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat konsumsi atau pemahaman masyarakat tentang pentingnya protein. Masih terdapat kesenjangan wawasan mengenai gizi seimbang, pemanfaatan hasil lokal, serta pengolahan produk bernilai tambah. Di sinilah peran KIM menjadi sangat strategis.
Melalui MALTIM SIGAP, kampanye literasi digital diarahkan pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya konsumsi protein yang cukup dan berkualitas. Konten yang diproduksi dapat mencakup edukasi gizi, profil petani dan peternak lokal, inovasi olahan hasil desa, hingga promosi produk UMKM berbasis protein.
Dengan demikian, branding ini tidak hanya mendukung program makan bergizi gratis, tetapi juga terhubung dengan koperasi desa Merah Putih dan penguatan sekolah unggulan. Ketika konsumsi protein meningkat, kualitas kesehatan dan konsentrasi belajar anak juga berpotensi meningkat. Ketika produk lokal terpromosikan dengan baik, koperasi dan UMKM desa memperoleh dampak ekonomi yang positif.
Menarik Benang Merah Ketahanan Pangan
Konsep ketahanan pangan menjadi fondasi konseptual dari MALTIM SIGAP. Ketahanan pangan tidak semata-mata soal ketersediaan bahan makanan, tetapi juga akses, pemanfaatan, dan stabilitas. Dengan fokus pada asupan protein, kelompok ini menempatkan diri pada aspek pemanfaatan dan edukasi konsumsi.Ketahanan pangan berbasis desa memiliki kekuatan pada kedekatan antara produsen dan konsumen. Desa yang memiliki sumber protein hewani seperti ikan atau ternak, serta protein nabati dari hasil pertanian dan perkebunan, sebenarnya memiliki peluang besar untuk mandiri secara pangan. Tantangannya adalah membangun kesadaran kolektif bahwa potensi tersebut harus dioptimalkan.
Melalui strategi komunikasi yang terencana, MALTIM SIGAP dapat menjadi payung narasi untuk menghubungkan berbagai aktivitas desa dalam satu tema besar. Mulai dari kegiatan budidaya, panen, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi, semuanya dapat dirangkai dalam cerita yang utuh dan inspiratif.
Strategi Konten dan Jadwal Publikasi Kolaboratif
Agar branding tidak berhenti pada tataran konsep, Kelompok Dua menyepakati strategi konten yang terstruktur. Kolaborasi menjadi kunci utama. Produksi konten dilakukan secara bersama, dengan jadwal publikasi serentak setiap Senin, Rabu, dan Sabtu. Hari-hari tersebut ditetapkan sebagai momentum kolaborasi MALTIM SIGAP.Publikasi direncanakan melalui berbagai platform, baik media sosial, website, maupun kanal digital lainnya. Konsistensi jadwal diharapkan mampu membangun ekspektasi audiens serta memperkuat algoritma distribusi konten di platform digital.
Lebih dari sekadar rutinitas unggah, strategi ini mengandung pesan bahwa sinergi lintas desa dapat memperluas jangkauan pesan. Ketika lima KIM mempublikasikan tema yang sama dalam waktu berdekatan, dampak eksposur menjadi lebih besar dibandingkan jika berjalan sendiri-sendiri.
Konten dapat dikemas dalam berbagai format, mulai dari video pendek edukatif, liputan kegiatan petani atau peternak, testimoni warga, hingga infografis sederhana tentang manfaat protein. Variasi format penting agar audiens tidak jenuh dan pesan dapat menjangkau berbagai segmen usia.
Menghidupkan KIM agar Tidak Stagnan
Salah satu kekhawatiran yang mengemuka dalam diskusi adalah risiko stagnasi bahkan mati suri. KIM yang tidak memiliki arah, program berkelanjutan, dan kolaborasi yang kuat rentan kehilangan semangat. Oleh karena itu, pembentukan identitas bersama seperti MALTIM SIGAP bukan hanya strategi komunikasi, tetapi juga strategi keberlanjutan organisasi.Dengan memiliki agenda bersama, setiap anggota merasa memiliki tanggung jawab dan peran. Pertemuan rutin untuk evaluasi konten, diskusi ide, serta refleksi capaian dapat menjaga dinamika kelompok tetap hidup. Kolaborasi juga menjadi ruang belajar bersama, di mana anggota yang lebih terampil dalam produksi konten dapat berbagi pengetahuan dengan yang lain.
Pendekatan ini memperkuat kapasitas kelembagaan KIM. Mereka tidak lagi berjalan sporadis, tetapi memiliki roadmap komunikasi yang jelas. Identitas kolektif memberikan arah, sementara potensi lokal menjadi bahan bakar kreativitas.
Membangun Ekosistem Desa yang Terintegrasi
MALTIM SIGAP pada dasarnya adalah upaya membangun ekosistem komunikasi yang terintegrasi. Ketika petani, peternak, pelaku UMKM, sekolah, dan koperasi terhubung dalam satu narasi besar, dampak yang tercipta tidak hanya pada level informasi, tetapi juga pada perubahan perilaku.KIM dapat berperan sebagai katalisator yang mempertemukan berbagai pihak. Misalnya, menghubungkan produsen ikan dengan koperasi desa, atau memfasilitasi sekolah untuk mengenalkan menu berbasis protein lokal kepada siswa. Konten yang diproduksi bukan sekadar promosi, melainkan dokumentasi praktik baik yang dapat direplikasi.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini berpotensi memperkuat identitas Malang Timur sebagai kawasan yang unggul dalam pemenuhan asupan protein berbasis potensi lokal. Identitas tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri, baik dari sisi ekonomi maupun citra wilayah.
Refleksi dan Harapan ke Depan
Bimbingan Teknis yang dilaksanakan pada 23 Februari 2026 menjadi titik awal penguatan arah gerak KIM Kabupaten Malang. Semangat kolaborasi, kesadaran akan pentingnya branding, serta keberanian menentukan fokus kampanye menunjukkan bahwa KIM siap bertransformasi.Tantangan tentu tidak kecil. Konsistensi produksi konten, koordinasi lintas desa, serta penguatan kapasitas digital anggota menjadi pekerjaan rumah bersama. Namun, dengan komitmen dan sinergi, tantangan tersebut dapat dikelola.
MALTIM SIGAP bukan sekadar slogan. Ia adalah komitmen untuk menjadikan potensi desa sebagai sumber kekuatan, literasi digital sebagai alat pemberdayaan, dan kolaborasi sebagai strategi keberlanjutan. Ketika komunikasi dikelola dengan baik, potensi yang selama ini tersebar dapat dirajut menjadi kekuatan kolektif.
Di tengah arus informasi yang begitu deras, KIM memiliki peluang besar untuk menjadi rujukan informasi yang kredibel di tingkat desa. Dengan arah yang jelas, branding yang kuat, dan kolaborasi yang konsisten, KIM Kabupaten Malang dapat memainkan peran strategis dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

0 Komentar