Upscrolled : Platform Baru Sosmed, dari Nol Menuju Viral Organik

ilustrasi - AI Gen

Ketika Pengguna Mulai Lelah dengan Media Sosial Lama

Ada satu pola yang selalu berulang dalam sejarah internet. Ketika sebuah platform tumbuh terlalu besar, ia perlahan berubah. Feed tidak lagi terasa personal, jangkauan makin sempit, konten makin dikendalikan, dan pengguna mulai merasa seperti tamu di rumahnya sendiri. Apa yang dulu bebas dan organik, kini terasa penuh aturan, sensor, dan kepentingan bisnis.

Beberapa tahun terakhir, keluhan seperti ini semakin sering terdengar dari kreator maupun pengguna biasa. Postingan sulit menjangkau pengikut sendiri. Kata-kata tertentu tak lagi bisa dicari. Timeline dipenuhi iklan dan konten yang tidak pernah diminta. Banyak orang merasa suaranya tenggelam oleh algoritma.

Di tengah kejenuhan itu, muncul satu nama baru yang perlahan menarik perhatian: Upscrolled. Aplikasi yang awalnya terdengar asing ini tiba-tiba melesat ke jajaran teratas toko aplikasi, dibicarakan di berbagai forum, dan disebut-sebut sebagai alternatif yang lebih adil. Bukan sekadar media sosial baru, melainkan sebuah perlawanan terhadap sistem lama.

Mengenal Upscrolled, Platform yang Menawarkan Kesederhanaan

Upscrolled lahir pada Juni 2025 sebagai platform microblogging dan video pendek. Secara tampilan, ia terasa familiar. Ada ruang untuk menulis teks singkat seperti di X atau Twitter, ada foto dan video pendek seperti Instagram dan TikTok, serta ada feed tempat pengguna menjelajah konten orang lain. Tidak ada sesuatu yang benar-benar revolusioner dari sisi desain. Namun yang membuatnya berbeda justru bukan pada tampilannya, melainkan pada cara kerjanya.

Upscrolled tidak menggunakan algoritma distribusi konten seperti kebanyakan media sosial modern. Artinya, sistem tidak menentukan siapa yang layak dilihat dan siapa yang harus tenggelam. Tidak ada prioritas tersembunyi untuk akun besar. Tidak ada manipulasi jangkauan demi iklan. Setiap postingan memiliki peluang yang sama untuk muncul di timeline.

Konsep ini terdengar sederhana, tetapi di era ketika algoritma menguasai hampir semua platform, kesederhanaan justru terasa radikal.

Akar Kekecewaan yang Memicu Migrasi Massal

Popularitas Upscrolled bukan terjadi tanpa sebab. Ia tumbuh dari rasa frustrasi kolektif yang sudah lama terpendam. Banyak kreator mengeluhkan penurunan jangkauan secara drastis. Pengikut ribuan, tetapi tayangan hanya puluhan. Konten seolah hilang tanpa penjelasan. Fenomena yang sering disebut sebagai shadow banning ini membuat banyak orang merasa bekerja keras tanpa hasil.

Di sisi lain, isu sensor makin terasa nyata. Beberapa topik politik atau sosial tertentu sulit dicari, bahkan seolah sengaja ditekan. Timeline tidak lagi kronologis, melainkan diatur untuk memaksimalkan keterlibatan dan iklan. Media sosial yang awalnya tempat berbagi, berubah menjadi mesin bisnis yang agresif.

Situasi semakin memanas ketika TikTok mengalami perubahan kepemilikan di Amerika Serikat. Akuisisi oleh kelompok investor yang dekat dengan kepentingan politik memunculkan kekhawatiran baru tentang kebebasan berekspresi. Sebagian pengguna, terutama aktivis dan kreator konten kritis, merasa ruang mereka makin menyempit.

Di momen itulah Upscrolled hadir sebagai pilihan alternatif. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar aplikasi baru, melainkan tempat untuk “memulai lagi dari nol”.

Ledakan Unduhan yang Tak Terduga

Dalam waktu singkat, angka pertumbuhan Upscrolled melonjak tajam. Aplikasi ini menembus daftar sepuluh besar aplikasi gratis di App Store. Di Play Store, ratusan ribu unduhan tercatat hanya dalam beberapa hari. Bahkan dilaporkan terjadi lonjakan lebih dari dua ribu persen dalam periode tertentu.

Untuk ukuran startup media sosial, angka tersebut terbilang luar biasa. Biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun basis pengguna sebesar itu. Upscrolled melakukannya dalam hitungan minggu.

Lonjakan ini menunjukkan satu hal penting: pasar sebenarnya sedang menunggu alternatif. Ketika ada opsi yang terasa lebih adil, orang tidak ragu untuk pindah.

Sosok di Balik Layar: Isam Hijazi

Di balik pertumbuhan pesat itu berdiri sosok bernama Isam Hijazi, seorang pengembang teknologi berlatar belakang Palestina, Yordania, dan Australia. Ia bukan figur publik sensasional, melainkan teknolog dengan rekam jejak panjang di industri.

Hijazi pernah bekerja di perusahaan besar seperti IBM, Oracle, dan Hitachi. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam tentang bagaimana sistem digital skala global dibangun dan dikelola. Dari situlah muncul gagasan bahwa media sosial seharusnya tidak sepenuhnya dikendalikan mesin.

Ia terinspirasi setelah melihat banyak konten bermakna tenggelam, sementara informasi dangkal atau sensasional justru viral. Menurutnya, algoritma terlalu sering mengejar klik, bukan kualitas. Maka lahirlah ide membangun platform yang lebih transparan dan setara. Upscrolled menjadi wujud nyata dari keyakinan tersebut.

Tanpa Algoritma, Tanpa Sensor Berlebihan

Filosofi Upscrolled sederhana: semua orang berhak terlihat. Feed disusun secara kronologis, bukan berdasarkan perhitungan kompleks yang tidak pernah dijelaskan kepada pengguna. Ketika seseorang memposting sesuatu, konten itu benar-benar muncul, bukan disaring atau diprioritaskan secara tersembunyi.

Bagi kreator kecil, ini terasa seperti angin segar. Mereka tidak lagi harus “menebak” selera algoritma. Tidak perlu mengikuti tren hanya demi jangkauan. Konten bisa dibuat lebih jujur dan autentik.

Selain itu, Upscrolled juga memposisikan diri sebagai platform dengan sensor minimal. Selama tidak melanggar hukum atau etika dasar, pengguna diberi ruang lebih luas untuk berekspresi. Pendekatan ini menarik bagi mereka yang merasa dibatasi di platform lain.

Masih Muda, Masih Banyak Kekurangan

Meski menjanjikan, Upscrolled tetaplah pendatang baru. Seperti banyak startup lainnya, ada sisi yang belum sempurna.

Beberapa pengguna melaporkan aplikasi terasa lambat, kadang crash, atau memerlukan waktu lama untuk memuat konten. Basis penggunanya pun belum sebesar TikTok atau Instagram, sehingga variasi konten masih terbatas. Bagi kreator profesional, ketiadaan sistem monetisasi juga menjadi pertimbangan tersendiri.

Namun kekurangan ini bisa dimaklumi. Setiap platform besar pun pernah melewati fase yang sama. Yang terpenting adalah arah dan visinya.

Cara Bergabung yang Sederhana

Bagi pengguna Android, proses bergabung tidak rumit. Cukup membuka Play Store, mencari nama Upscrolled, lalu menginstalnya seperti aplikasi biasa. Setelah itu, pengguna bisa membuat akun baru dan langsung mulai menjelajah.

Tidak ada prosedur kompleks atau persyaratan khusus. Pengalaman awalnya sengaja dibuat sederhana, seolah ingin mengembalikan media sosial pada fungsi dasarnya: berbagi dan terhubung.

Apakah Upscrolled Layak Dicoba?

Jawabannya bergantung pada apa yang Anda cari. Jika Anda lelah dengan algoritma, ingin jangkauan yang lebih adil, atau ingin merasakan suasana komunitas yang masih segar dan belum terlalu komersial, Upscrolled layak dicoba. Ia menawarkan pengalaman yang lebih tenang dan terasa manusiawi.

Namun jika tujuan utama Anda adalah monetisasi cepat atau menjangkau audiens masif, mungkin perlu waktu sebelum platform ini benar-benar matang.

Upscrolled saat ini lebih cocok sebagai ruang alternatif, tempat bereksperimen dan membangun komunitas sejak awal.

Pertanda Perubahan Zaman

Kemunculan Upscrolled menyiratkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar aplikasi baru. Ia menunjukkan bahwa pengguna mulai mempertanyakan dominasi algoritma. Bahwa tidak semua orang nyaman ketika mesin menentukan apa yang harus mereka lihat.

Mungkin kita sedang memasuki fase baru media sosial, di mana transparansi dan keadilan menjadi nilai yang lebih penting daripada sekadar viralitas.

Seperti dulu Facebook menggantikan MySpace, dan TikTok mengguncang Instagram, bukan tidak mungkin Upscrolled suatu hari berdiri sejajar dengan para raksasa itu. Waktu yang akan menjawab.

Untuk saat ini, ia hadir sebagai pengingat sederhana: media sosial seharusnya milik penggunanya, bukan milik algoritma.

0 Komentar